Hubungan AS-Indonesia wajib dimulai ulang

Authors: Alexander R Arifianto, RSIS and Yohanes Sulaiman, Jenderal Achmad Yani University

Sejak lolos atas tarikh 1945, Indonesia sudah menganut rukun ‘lolos dengan berfungsi’ (berfungsi lolos) ketatanegaraan pendatang janabijana yg menyodorkan kenetralan dengan non-blok. Terlepas bermula ancangan akan kompetisi stamina hebat ini, Indonesia sudah menikmati rangkaian bilateral yg beradat menggunakan Amerika Serikat semenjak Washington selaku formal mengesahkan kedaulatan Indonesia atas tarikh 1949.

Hubungan AS-Indonesia mengungguli seluruh zaman kegentingan. Yang mula-mula merupakan semasih tarikh 1950-an. Khawatir Partai Komunis mau meniru ganti Indonesia sonder terbuka gerakan bermula penguasa Indonesia, Amerika Serikat memegat bagi menggendong perlawanan PRRI/Permesta tarikh 1958.

Hubungan tercantum semakin memburuk selepas friksi diplomatik hebat celah Indonesia dengan Malaya menyerempet kualitas Sabah dengan Sarawak. Pertengkaran itu mengakibatkan pertempuran prajurit celah tarikh 1963 dengan 1966. Hanya selepas Suharto menggelindingkan Presiden Sukarno selepas Gerakan 30 September, rangkaian AS-Indonesia sehat, dengan kedua provinsi menebarkan kerjasama ketenangan dengan perniagaan.

Indonesia dengan Amerika Serikat meneken Kemitraan Komprehensif AS–Indonesia dekat geladak rezim Obama atas tarikh 2010. Perjanjian ini sebagai payung udara penggal kemitraan serentak dekat bidang-bidang ganal penggodokan semampai dengan transformasi lingkungan — namun sebagai tak berfungsi kali rezim Trump berangkat menjabat atas tarikh 2017. Pada 31 Mei 2021, Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman mengunjungi Indonesia selaku atasan semampai mula-mula rezim Biden yg menyelenggarakan lawatan formal ke provinsi tercantum. Pada perjumpaan tercantum, paruh bos membincangkan kapasitas gagasan anyar bagi menginovasi kemitraan AS-Indonesia dengan memberantas tantangan regional.

Terlepas bermula langkah-langkah ini, Indonesia merasa semakin tak makmur menggunakan kebijaksanaan pendatang janabijana AS. Sementara Indonesia duka menggunakan keinsafan China dengan meningkatnya kejelasan dekat Laut China Selatan, Indonesia tak menggendong kebijaksanaan pendatang janabijana bergairah rezim Trump akan China, yg naga-naganya mau berbuntut dekat geladak Presiden AS Joe Biden.

Indonesia serupa tak makmur menggunakan ikrar rezim anyar bagi memperluas Dialog Keamanan Segiempat (Quad) — kemitraan ketenangan regional celah Amerika Serikat, Australia, India, dengan Jepang. Quad makin mendahulukan atas ketenangan ketimbang tempaan kegiatan setara asing, ganal perniagaan dengan kebugaran bangsa. Kesehatan bangsa merupakan pengutamaan penggal ahli ASEAN oleh zona ini bergulat menggunakan konsekuensi COVID-19.

Perhatian AS atas Quad tercantum bisa membangkitkan menurunnya independensi penggal ASEAN selaku maktab ketenangan regional terbilang dekat Asia Tenggara, yg mau mudarat kebutuhan Indonesia bermutu menaungi zona tercantum hendaknya lolos bermula mencampuri sebelah pendatang. Ancaman akan pertemuan dalam negeri Indonesia—ganal perlawanan PRRI/Permesta yg beroleh sokongan tertutup bermula rezim Eisenhower, apresiasi partisipasi Cina bermutu Gerakan 30 September, dengan partisipasi Australia bermutu separasi orang Timor Timur—tengah mengesan bermutu impresi Indonesia.

Indonesia duka menggunakan hari rezim Biden bagi menujukan kenaikan kerakyatan dengan sah utama hamba Allah bermutu kebijaksanaan pendatang janabijana AS. Ini boleh jadi sekaligus semula sebagai tuntutan ketenangan dengan sokongan perniagaan AS — ganal yg berlangsung atas peluang kepresidenan Clinton dengan Obama. Indonesia sungguh-sungguh harap-harap cemas berhubungan kapasitas intrusi Barat dekat Papua — teritori membelokkan timurnya — dekat mana paruh praktisi pro-kemerdekaan regional sudah terendong bermutu propaganda separasi orang semenjak selaku formal dinyatakan selaku pihak bermula Indonesia atas tarikh 1969.

Ini enggak problem lumat. Ini memecut pengambilan bahana Indonesia bagi mengecam menjadikan pernyataan PBB berhubungan Tanggung Jawab Melindungi (R2P) — serentak menggunakan sekadar 14 provinsi asing — atas Mei 2021, oleh harap-harap cemas pernyataan tercantum mau digunakan selaku gapura buritan bagi memastikan intrusi dekat Indonesia.

Di sentral meningkatnya kegentingan geopolitik dekat Asia Tenggara, rangkaian bilateral AS-Indonesia sebagai makin pokok bermula sebelumnya. Tetapi perdebatan berhubungan hari AS—tertanam macam mana AS bertujuan bagi menaikkan kerakyatan dengan sah utama hamba Allah—dengan intensitas ancangan AS akan keterlibatannya menggunakan Indonesia mewujudkan kerakal sandungan bagi kegiatan setara makin berumur celah kedua provinsi.

Untuk memberantas tantangan tercantum, Washington dengan Jakarta perlu mendapatkan kemungkinan anyar bagi kerjasama dengan konstan mencerap kebijaksanaan pendatang janabijana Indonesia yg ‘lolos berfungsi’ dengan keseraman mau mencampuri kaku.

Pemerintahan Biden wajib langsung menyertakan Indonesia dengan menyaruk makin penuh kegiatan setara perniagaan dengan ketenangan dekat permukaan prajurit dengan non-militer. Ini wajib bagi meluaskan skedul perputaran opsir, memasukkan makin penuh ketika penggal opsir Indonesia bagi memperluas pantauan tempat mereka.

Washington wajib menyungguhkan Jakarta bahwa mereka menaksir pertemuan Indonesia, tatkala serupa menyaruk Indonesia bagi meniru telatah yg makin berandang dekat ASEAN, ganal yg sudah ditunjukkan semasih genting Myanmar yg masih berlantas. Memastikan Indonesia dengan ASEAN konstan kuat dugaan — bagi membalas imbas China yg semakin hebat dekat Asia Tenggara — merupakan kebutuhan sari AS.

Alexander R Arifianto merupakan Peneliti Program Indonesia dekat S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura.

Yohanes Sulaiman is a Lecturer in the School of Government at Jenderal Achmad Yani University, Bandung, Indonesia.