Islamofobia rasis tak menyandang bekas bagi mengajar suku lembut kita: Mantan anak didik Ngee Ann Poly pada Tan Boon Lee

Singapura—Mantan mahasiswa pengajar Politeknik Ngee Ann, Tan Boon Lee, memposting pada alat kemasyarakatan berhubungan pengetahuan “membayang-bayangi” yg ia natural pada taraf setengah warsa yg silam, yg berparak atas ia terpecul semenjak taraf.

Pelajar, seorang perempuan Muslim yg lintas @ _aturan baru_ pada Instagram, menoreh posting berjarak ala Rabu (9 Juni), berhubungan taraf Mr Tan ala 28 Juli 2017.

Dia menoreh bahwa “komunikasi berhubungan Islam … menumpuk seperti itu kronis” sehingga ia “sudahnya beristirahat pada pendatang pada susun jalan” atas pengantar sekelasnya yg asing, “mengharap pidatonya yg merusuhkan sempurna”.

Wanita lembut itu pula mengalokasikan kisah Instagram-nya semenjak yaum taraf, yg atas pasti menyuratkan bagaimana kesalnya ia.

Dia menoreh bahwa ala selama itu ia trendi berumur 17 warsa serta “trendi semenjak 10 warsa pondok mengepas menyatu ke berkualitas dunia sekuler trendi.” Apalagi ia ialah wahid Muslim pada taraf.

Selama pada taraf, Pak Tan “menelanjangi posisi web pada proyektor, menyuratkan hal-hal yg tak ia setujui berhubungan Quran serta Nabi Muhammad saw pada front taraf.”

“Semua yg kawula cuplik semenjak ia menyatakan pada slide ke-3 sayup tak terkandung ujung argo es. Saya terkenang sebagai makian. Saya terkenang mengepas menyatukan kegagahan bagi sudahnya mengajukan sambatan. Saya terkenang tak terkandung yg berjalan,” tambahnya.

Pada tunggal dot pada taraf, Tuan Tan menunjuknya pada partai front serta bersoal apakah ia setujuan atas apa pun yg dikatakannya. Dia menoreh, “Saya sayup tak pandai menelanjangi congor pada senter pernyataannya yg lantas menyusup.”

Wanita itu menggarisbawahi bahayanya menyandang orang-orang semacam Tuan Tan demi ustaz, mengarah-arahi baya lembut serta tabiat gampang tergoda semenjak paruh anak didik. Dia melebihkan bahwa berkat ia ialah pengajar superior, probabilitas tegap ia sudah membikin deklarasi “rasis serta Islamofobia” yg persis sejauh karir mengajarnya.

Dia pula meluruskan bahwa ia boleh ulang menangani semula sesudah penangguhannya semenjak Ngee Ann Polytechnic berparak.

Mantan anak didik itu tak menyatakan apa-apa berhubungan perasaannya berhubungan pertanyaan ini.

“Dia selayaknya tak diizinkan ulang. Saya ulangi. Seorang Islamofobia rasis tak menyandang bekas bagi mengajar paruh teruna kita.”

Dan temporer ia beriktikad bahwa mencari ilmu berhubungan din yg senjang istimewa bagi keselarasan kemasyarakatan, “Mengambil penjelasan seperti itu melulu serta membikin kesalahpahaman sejenis ini boleh mengadakan keinsafan yg alpa berhubungan apa pun maksud Islam yg semestinya. Kurangnya keinsafan ini mengadakan permusuhan, syak, serta rasisme khusus berkualitas apa pun yg kita tengok yaum ini.”

Dia merantas bagi mendongengkan kisahnya tempo Mr Tan tersirap sebagai adam berkualitas film viral yg menyatakan: kembaran Cina-India itu itu “rasis bahwa populasi India mengawini populasi Cina berkat itu pemakan”.

“Lebih padat populasi berlabuh bagi membenarkan. Lebih padat populasi menyuratkan gendongan. Kami tampaknya tengah terasing semenjak angan-angan lamun bainah bahwa orang-orang berputar, mengepas, serta memetik kesibukan berfaedah ego tandas berharta pada rintisan yg sadik,” tulisnya.

“Tidak sempurna sebagai anti-rasis.

“Bersikap adil melulu tak sempurna.

“Kami membutuhkan orang-orang bagi berkembang, terjaga serta mangap mengkritik rasisme.”

/ TISG

Baca pula: Netizen: Mungkin perincian batih Chindi yg gembira bakal menunjang ‘mamak rasis’ bersalin penalaran

Netizen: Mungkin perincian batih Chindi yg gembira bakal menunjang ‘mamak rasis’ bersalin penalaran

Ikuti ego pada Media Sosial

Kirimkan siaran Anda ke [email protected]