Tidak terdapat zaman dada yg jujur ransum perempuan Afghanistan dalam dek Taliban

Penulis: Sanchita Bhattacharya, Institut Manajemen Konflik

Meskipun berucap akan kembalinya Taliban ke Afghanistan, mereka tak sempat betul-betul angkat kaki. Selama dobel sepuluh tahun mereka kasat mata dalam buritan pentas ketatanegaraan, namun terlampau sarat ada dalam setiap pihak Afghanistan beserta denyut rakyatnya. Tetapi Taliban kini menindas mudik martabat beserta stamina politiknya. Bagian kampung yg terpinggirkan – anak-anak, minoritas ketuhanan, awewe beserta bayi awewe – hendak mengalami muatan terberatnya.

Meskipun spesialis kata Taliban Zabihullah Mujahid beriktikad atas 17 Agustus bahwa Taliban hendak menjamu hak-hak awewe lubuk pinggan prinsip Islam, kekejaman akan awewe lantas sinambung. Taliban tembakmenembak Mati seorang perempuan dalam wilayah Takhar atas tak memasang burqa belaka kaum arloji lewat. Dan selesai Taliban mengedut Kabul atas 14 Agustus, reklame perempuan yg memasang baju kemantin plus acap dicat. Seorang lanang visibel memerlukan pencelup bersih mendapatkan menudungi tulisan gadang dalam asing salon keindahan.

Seperti ditangkap unik perlu unik wilayah dalam kamar Juli, Komisi Kebudayaan Taliban ditetapkan ‘seluruh Imam beserta Mullah dalam lingkungan yg direbut kudu menyediakan kesempatan Taliban register teruna dalam kepada 15 warsa beserta balu dalam dek 45 warsa mendapatkan menikah plus pejuang Taliban’. Taliban pula meniupkan hukum beserta prinsip aktual dalam distrik-distrik yg direbut dalam wilayah Takhar — mendiktekan perempuan mendapatkan tak membelakangi vila sorangan — beserta menyetel ketaatan maskawin Untuk awewe. Gerakan ini mempermalukan perempuan beserta bayi awewe.

Situasi setempat dalam Afghanistan ransum awewe tentu suramnya plus warsa 1990-an. Perempuan merasakan plural potongan kekejaman — pembantaian massal perlu prestise, pemerkosaan, pemukulan, kemarahan, perlucahan yg dipaksakan, ofensif masam, ijab nikah sayap beserta ijab nikah mendapatkan menanggulangi percederaan kelompok beserta tercantol bentala. Kekerasan akan awewe sewaktu ofensif keras pula sudah selaku pikiran kehidupan yg diterima dalam kampung yg dilanda yuda itu.

Menurut Misi Bantuan PBB dalam Afghanistan, terdapat 1146 perempuan bulan-bulanan atas warsa 2020 — 390 lewat beserta 756 ketaton. Yang memprihatinkan, ini membubuhi cap besaran terbaik dari pengumpulan tersusun dimulai atas 2009. Perempuan pertama dirugikan sejak pelaksanaan anak bedil artileri, tomong, peluru, beserta penghubung peledak rakitan. Banyak pula yg terbunuh beserta ketaton lubuk pinggan peristiwa pembantaian massal yg ditargetkan.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan mereken masalah kekejaman berbahaya yg dilakukan akan awewe. Dia termasuk jumlah 3.477 masalah kekejaman akan awewe lubuk pinggan 10 kamar prima warsa 2020. Jumlah tertera terdiri sejak 1.241 masalah kekejaman jasmani akan awewe terlibat masalah pemenggalan, pemukulan, cedera beserta pekerjaan sayap. Tercatat 130 masalah kekejaman sensual akan awewe, 1120 masalah kekejaman oral alias psikologis akan awewe, beserta 601 masalah kekejaman perniagaan.

Kekerasan perniagaan terlibat menggarong wasiat awewe, tak mempersembahkan tumpuan (purnabakti), mencegah karakter lubuk pinggan pengeluaran puak, mendagangkan barang-barang mereka minus pembenaran mereka, beserta mencegah mereka beraksi. Kasus kekejaman lainnya terlibat 385 masalah pemulangan sejak vila, ijab nikah sebelum, ijab nikah sayap, pergiliran awewe beserta mencegah awewe beserta bayi awewe angkat kaki ke kampus.

Situasi dalam Afghanistan berhantu, beserta masalah kekejaman akan awewe boleh jadi tak sempat bererak. Dengan Taliban kini berisi kekangan, karakter belaka larat mencita-citakan depresiasi kian tua beserta kebangkrutan komunitas, rezim beserta perniagaan vis-a-vis masyarakat awewe.

Selama rezim Taliban sebelumnya sejak 1996 limit 2001, peristiwa itu mengadakan sebesar gadang geruh-gerah ransum awewe beserta bayi awewe Afghanistan. Rezim sebelumnya ini kondang atas menggaduhkan perasaan beserta badan gadis-gadis Afghanistan plus eksekusi mahajana, melontari, kemarahan, ofensif masam beserta kekejaman sensual. Banyak pula yg dipaksa selaku pemulung. Karena skrip selagi ini kasat mata penaka hengkang ke zaman arkian, zaman dada ransum awewe Afghanistan terlampau menggelisahi.

Hak-hak awewe umum beserta aktivitas sah pokok individu kudu menyampaikan kebersamaan mereka mendapatkan awewe beserta bayi awewe dalam Afghanistan — tak belaka lubuk pinggan kata-kata namun pula lubuk pinggan aktivitas.

Sanchita Bhattacharya merupakan Peneliti dalam Institut Manajemen Konflik, New Delhi.